Upacara HUT Perguruan Tamansiswa Ke-102

Pada tanggal 3 Juli 2024, Perguruan Tamansiswa Cabang Mojoagung menggelar Upacara Bendera memperingati HUT Perguruan Tmanasiswa ke-102 . Acara ini bertujuan untuk meneladani perjalanan Perguruan Tamansiswa dari awal berdiri sampai saat ini serta mempersiapkan rencana yang akan datang untuk mencerdaskan bangsa.

Kegiatan utamanya yaitu upacara bendera yang dipimpin oleh anak-anak PPTS baik dari SMP dan SMK. Kegiatan ini diikuti oleh semua pamong SMK Tamansiswa dan SMK Taman Dewasa Mojoaugung serta sebagian peserta didik. Dalam upacara ini yang bertugas sebagai Pembina upacara adalah Ki Agus Setiawan, S.Pd (Kepala SMK Tamansiswa Mojoagung), dalam pidatonya beliau juga membacakan Teks “Sambutan Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa” berikut adalah rangkumannya :

Tamansiswa didirikan pada tahun 1922, saat Indonesia masih dijajah. Kejamnya kolonialisme membangkitkan kesadaran nasional dan semangat melawan penjajahan di kalangan rakyat Indonesia. Salah satu tokoh yang berperan penting adalah RM Soewardi Soerjaningrat, yang bersama istri dan teman-temannya mendirikan Nationaal Instituut Onderwijs Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) di Yogyakarta pada 3 Juli 1922. Pada tanggal 3 Februari 1928, Soewardi Soerjaningrat genap berusia 40 tahun dan mengambil nama Ki Hadjar Dewantara.

Menjelang Sumpah Pemuda pada Oktober 1928, Ki Hadjar Dewantara menetapkan dasar dan strategi pendidikan nasional yang nasionalistik. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang berbasis kebangsaan agar anak-anak mencintai bangsa dan tidak menjadi lawan bangsanya. Prinsip-prinsip ini kemudian diadopsi dalam Pasal 31 dan Pasal 32 UUD 1945 yang dirumuskan saat Ki Hadjar menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Pasal 31 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan pemerintah bertanggung jawab menyelenggarakan sistem pendidikan nasional.

Pada tahun 2002, Pasal 31 UUD 1945 diamandemen dengan beberapa tambahan, termasuk kewajiban warga negara untuk mengikuti pendidikan dasar dan kewajiban pemerintah untuk membiayainya. Amandemen ini juga menekankan pentingnya pendidikan yang meningkatkan keimanan, ketaqwaan, serta akhlak mulia, dan mengalokasikan minimal 20% anggaran negara untuk pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara memandang pentingnya satu sistem pendidikan nasional untuk membentuk identitas dan kebangsaan Indonesia yang utuh. Namun, ia mungkin akan kecewa dengan penyelenggaraan pendidikan nasional saat ini, yang sering kali menyimpang dari tujuan aslinya. Pendidikan di Indonesia kini menjadi mahal dan banyak disalahgunakan sebagai barang dagangan, sehingga hanya anak-anak dari keluarga kaya yang dapat mengakses pendidikan tinggi. Penyelewengan anggaran dan pelaksanaan anggaran pendidikan pun banyak terjadi.

Meskipun jumlah sekolah dan lulusan meningkat, Ki Hadjar mungkin akan kecewa melihat persaingan antara sekolah negeri dan swasta yang menyebabkan kesulitan bagi banyak sekolah swasta, termasuk Tamansiswa. Pemerintah memang memberikan bantuan kepada sekolah swasta, tetapi arah dan prioritas pendidikan nasional masih tidak jelas. Konsep “merdeka belajar” saat ini berbeda dengan ajaran Ki Hadjar tentang “belajar merdeka,” yang menekankan kemandirian dan kemampuan mengelola kekayaan alam sendiri.

Ki Hadjar juga mengajarkan pentingnya hidup mandiri dan tidak bergantung pada bantuan pihak luar. Namun, modernisasi dan globalisasi menggeser paradigma ini, sehingga nasionalisme Tamansiswa tidak lagi menarik di dunia modern. Tamansiswa perlu mengingatkan masyarakat tentang kesalahan arah pendidikan dan berperan aktif dalam memperjuangkan hak-hak sejarah sekolah-sekolah swasta.

Tamansiswa didirikan dengan prinsip “SUCI TATANGESTI TUNGGAL,” yang berarti hidup dengan kesucian hati dan ketertiban lahir untuk mencapai kesatuan dan kesempurnaan. Untuk menjaga kelangsungan Tamansiswa, semua pihak harus rela berkorban dan disiplin mengikuti ketentuan bersama. Hanya dengan demikian, Tamansiswa dapat terus berperan dalam meluruskan arah pendidikan nasional dan mempertahankan warisan historisnya.

penting bagi Tamansiswa dan sekolah-sekolah swasta lainnya untuk terus memperjuangkan hak-hak sejarah mereka dan memastikan bahwa pendidikan nasional kembali ke jalur yang benar. Dengan semangat pengorbanan dan disiplin, Tamansiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih baik dan adil.

Kesimpulannya, Perguruan Tamansiswa, yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922, memainkan peran penting dalam membentuk pendidikan nasional yang berbasis kebangsaan dan kemandirian. Namun, perkembangan pendidikan saat ini sering menyimpang dari tujuan aslinya, dengan biaya yang tinggi dan ketergantungan pada bantuan luar. Meskipun jumlah sekolah dan lulusan meningkat, persaingan antara sekolah negeri dan swasta mengancam kelangsungan sekolah-sekolah swasta seperti Tamansiswa. Untuk mempertahankan warisan dan peran historisnya, Tamansiswa harus terus berjuang meluruskan arah pendidikan nasional dengan prinsip pengorbanan dan disiplin demi mencapai kesatuan dan kesempurnaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post